Inilah Arti Tradisi Cukuran Massal

Cukuran massal sering dilaksanakan di Kabupaten Bangka pada hari besar agama Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Islam, Hari Raya dan lainnya. Namun ada juga cukuran massal dilaksanakan secara sendiri atau pribadi. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti apakah arti tradisi cukuran massal tersebut. Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Windiati, Minggu (3/12/17) kegiatan atau tradisi cukuran massal merupakan kegiatan dengan melakukan pemotongan atau cukur beberapa helai rambut dari anak. Hal ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus simbol mempersiapkan anak untuk tumbuh lebih besar. Cukuran massal ini juga selain menjaga tradisi, juga meringankan beban warga karena tradisi ini dinilai akan memberatkan jika harus dilaksanakan oleh masing-masing keluarga. Sementara bagi keluarga yang mampu secara ekonomi, biasanya cukur rambut dilakukan melalui aqiqah.ada potong hewan juga. Bagi keluarga dengan anak laki-laki harus memotong dua ekor kambing, sedangkan yang memiliki anak perempuan cukup seekor kambing.
Dalam kegiatan cukuran massal, para orang tua membawa buah kelapa, telur yang telah dihias serta pohon uang jika ada yang kemudian disumbangkan kepada pengurus masjid. Kemudian dilakunan doa untuk si bayi dengan bacaan marhaban, barzanji dan lainnya dengan tujuan meminta keselamatan , perlindungan dan lainnya untuk pertumbuhan si bayi sehingga bisa menjadi manusia yang qurani dan bertaqwa.
"Ciri khasnya itu ya itu tadi, ada buah kelapa kuning yang telah dibuka, kulitnya dihiasi nama anak, ada madu juga, nah nanti ada tokoh agama, dan jemaah masjid memberikan doa, sambil membacakan marhaban, barzanji dan lainnya, memotong beberapa helai rambut anak, dan mengusapkan kepala atau pipinya, begitu seterusnya sampai selesai," ungkap Windiati.
Dalam tradisi cukuran massal biasanya ada arak-arakan peserta cukuran massal yang berlangsung sejak pagi hari dan hal ini semakin memeriahkan kegiatan cukur massal dan bisa menarik perhatian banyak orang. Selain terlihat juga rasa kebersamaan di masyarakat.
"Berbaur menjadi satu, ada adat Nganggung Sepintu Sedulang, dan itu yang terasa kental sekali jika melaksanakan cukuran massal di Kabupaten Bangka dan Bangka Belitung pada umumnya," ujar Windiati.

Sumber: 
Dinkominfotik
Penulis: 
Lutfi Adam
Fotografer: 
Lutfi Adam
Editor: 
Lutfi
Tags: 
Berita Daerah