Inilah Arti Ritual Adat Rebo Kasan?

Perayaan Rebo Kasan merupakan salah satu perayaan ritual ada yang dilaksanakan masyarakat Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ritual adat ini sangat  menarik yang rutin dilakukan masyarakat Air Anyir Kabupaten Bangka  setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka beramai-ramai melakukan upacara Rebo Kasan. Tujuannya  adalah untuk menolak bala dan memanjatkan doa untuk diberikan keselamatan.
Upacara Rebo Kasan merupakan upacara adat yang dilakukan sebagai simbol untuk menolak bala. Acara ini rutin dilakukan oleh masyarakat di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Bangka. Biasanya, Rebo Kasan diselenggarakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Shafar penanggalan hijriah.
Nama Rebo Kasan diambil dari kata Rebo Kasat yang berarti Rabu terakhir di bulan Shafar. Upacara Rebo Kasan sudah dilaksanakan sejak abad keenambelas dan kemudian diturunkan ke generasi berikutnya sampai dengan sekarang ini.
Pada masa itu, nenek moyang masyarakat Air Anyir biasanya melaksanakan shalat sunnah empat rakaat dengan membaca satu kali Al Fatihah, Al Kautsar sebanyak 17 kali, Al Ikhlas sebanyak lima kali, Al Falaq dan An Nas satu kali pada tiap-tiap rakaatnya. Kemudian, mencabut dua helai daun kelapa dari ketupat yang dihanyutkan ke laut.  Hal Ini menyimbolkan bahwa bencana sudah dibuang ke laut.
Tradisi ini terus dijalankan hingga sekarang, namun dengan beberapa perubahan. Sekarang ini, ritual tolak bala dimulai pagi hari sejak matahari terbit. Saat itu akan dikumandangkan azan, kemudian masyarakat Air Anyir akan memasukkan piring ke dalam guci berisi air. Lalu, warga yang lain akan membagikan ketupat lepas kepada tamu undangan, dan memanjatkan doa. Satu ketupat untuk dua orang.
Selesai mengucapkan 'amin', warga dan undangan serentak menarik ujung daun ketupat. upacara tidak berhenti di situ, acara terus dilanjutkan dengan beramai-ramai mendatangi guci dan meminta airnya  yang disebut dengan air waqaf yakni air yang dipercaya bisa menghalau bala. Ada yang membawa gelas sampai bekas botol minuman untuk menyimpan airnya. Kemudian mereka menuju ruangan di samping masjid.

Ritual Rebo Kasan diakhiri dengan makan bersama para warga menggunakan alas makan dari dulang, atau nampan yang telah dibawa oleh masing-masing warga. Di dalam dulang tersebut sudah tersedia ketupat lengkap dengan lauk-pauk dan buah. Meskipun dalam proses ritualnya dilakukan di depan masjid dan menggunakan doa-doa, nuansa magis masih terasa lewat mantra-mantra yang terselip di setiap rangkaian.

Sumber: 
Dinkominfotik
Penulis: 
Lutfi Adam
Fotografer: 
Lutfi Adam
Editor: 
Lutfi
Tags: 
Berita Daerah