Dinas Pertanian Adakan SL-PHT Bagi Petani Lada

Pemerintah Kabupaten terus melakukan upaya untuk membantu masyarakat petani dalam bercocok tanam dan berkebun sehingga menghasilkan hasil yang berkualitas. Melalui Dinas Pertanian, diselenggarakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) bagi petani lada, Rabu (15/3/17) di Desa Zed Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka. Rencananya, 16 desa akan mendapatkan SL-PHT dari Pemkab Bangka yang metode pengajarannya teori dan praktek.
Menurut Kepala Bidang Perkebunan, Subhan seizin Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka, mengungkapkan, Sl-PHT ini diselenggarakan dikarenakan masih banyak petani yang tidak mampu mengendalikan organisme penganggu tumbuhan (OPT) yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi dan kualitas hasil tanaman perkebunan.
"Banyak petani dan masyarakat yang mengartikan pengendalian OPT sama dengan penggunaan pestisida kimia sintetis," ungkap Subhan, Kamis, (16/3/17) di kantornya.
Berangkat dari hal tersebut, ungkap Subhan lagi, melalui SL-PHT, petani perlu mempunyai pengetahuan dan keterampilan tentang empat prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di kebun secara mandiri. Keempat prinsip tersebut yakni budidaya tanaman sehat, pelestarian dan pemanfaatan musuh alamai, pengamatan rutin dan petani sebagai ahli PHT atau menjadi manejer di kebun sendiri.
"SL-PHT ini merupakan metode penyuluhan, bentuk pendidikan non formal yang dirancang berdasarkan pendekatan andragogi dan menerapkan pola pelatihan yang dilakukan secara partisipatoris dan pendekatan dari bawah," jelas Subhan.
Diuraikan Subhan lagi, SL-PHT ini merupakan salah satu cara untuk membantu petani, sehingga lebih memahami cara bertani dan berkebun yang pintar dan mandiri. 
"Kita akan roadshow nantinya ke 16 desa yang ada di Kabupaten Bangka, dan disasarkan kepada kelompok tanaman lada," katanya.
Kedepan Subhan juga mengharapkan para petani dapat mengendali hama secara benar, dengan upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknis pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. Selain itu juga para petani mulai menerapkan sistem Agens Pengendali Hayati (APH) yakni organisme yang meliputi spesies, sub spesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan, bakteri, virus, mikroplasma serta organisme lainnya yang dapat digunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme penganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya.

"Kita siapkan fasilitator untuk SL-PHT ini untuk memfasilitasi proses belajar, membimbing diskusi, dan mengamati kegiatan SL-PHT. Kita ingin petani dapat memproduksi hasil kebunnya dengan banyak dan kualitas baik, sehingga bisa mendukung pertanian yang tangguh," tukas Subhan.

Sumber: 
Dinkominfotik
Penulis: 
Lutfi Adam
Fotografer: 
Lutfi Adam
Editor: 
Lutfi
Tags: 
Berita Daerah